Gelandangan Sumbang Recehan Senilai 43 Juta Sebelum Meninggal. Bukti Sedekah Tak Harus Nunggu Kaya

Kalau menilik dari rencana hidupmu, kira-kira di usia berapa kamu ingin mulai bersedekah kepada orang yang membutuhkan? Apakah menunggu sampai keuanganmu stabil dulu, atau setidaknya nggak lagi gali lubang tutup lubang? Atau mungkin justru nanti kalau sudah kaya dan banyak nominal nganggur di rekening?

Semua itu jelas nggak berlaku bagi Ta Toi, seorang gelandangan di Thailand yang baru saja meninggal akhir tahun kemarin. Yang mengharukan, Ta Toi menyumbangkan recehan senilai 43 juta untuk orang yang membutuhkan. Kisah ini ramai diperbincangkan selama momen Natal, karena kebaikan hati Ta Toi yang begitu menyentuh hati. Ta Toi membuktikan bahwa meski tidak punya apa-apa, kita masih bisa membantu sesama. Ini kisah selengkapnya.

1. Sebelum meninggal, Ta Toi merupakan pria tua pemulung sampah yang seringkali mengemis di pinggir jalan

ilustrasi: gelandangan (Photo by Jimmy Chan) via www.pexels.com

Diulas oleh Asia One, Ta Toi adalah seorang pria tua yang sering meminta-minta. Sosoknya sering dijumpai warga di sekitar area 7-Eleven di jalanan Ban Mi. Selain meminta-minta, Ta Toi juga mengumpulkan sampah bekas dan barang-barang unik. Ta Toi meninggal dunia akhir tahun lalu. Sosoknya viral setelah seseorang yang bernama Kiatisak Saothi memposting tentangnya di Facebook.

“RIP Ta Toi, pria tua di depan 7-Eleven di Ban Mi. Meski kamu telah pergi, kamu meminta keluargamu untuk membuawa uang yang kamu kumpulkan seumur hidup untuk kuil. Kamu sangat hebat,” ungkap Kiatisak Saothi.

2. Di balik penampilannya, dan kemiskinannya, Ta Toi ternyata mengumpulkan koin recehen yang ia dapatkan semasa hidup

sumbangan Ta Toi untuk kuil (foto: Kiatisak Saothi/Facebook) via www.facebook.com

Sebagai gelandangan, Ta Toi tidak punya tempat bernaung yang permanen. Penampilannya juga lusuh, dan terkadang terlihat bertelanjang dada saat mengemis di depan 7-Eleven. Namun, di balik kelusuhannya, ternyata Ta Toi mengumpulkan banyak koin receh yang ia dapatkan selama hidup. Total uang simpanan Ta Toi mencapai 70 Bath, atau sekitar 43 juta rupiah, yang kesemuanya berbentuk koin-koin receh.

Kalau dipikir-pikir, jumlah uang itu tidaklah sedikit. Ta Toi bisa hidup dengan lebih layak memanfaatkan uang tersebut. Namun, apa yang dia lakukan sangatlah mengharukan. Setelah Ta Toi meninggal dunia, saudaranya membawakan uang yang berhasil Ta Toi kumpulkan selama hidup untuk didonasikan ke sebuah kuil di Lopburi. Dalam postingan yang diunggah oleh Saothi, nampak juga biksu-biksu menghitung koin peninggalan Ta Toi.

3. Sementara itu, banyak dari kita yang menunda bersedekah dengan alasan “ah, nanti saja, kalau sudah kaya biar lebih banyak sedekahnya”

sedikit bagimu banyak bagi mereka (Photo by Guduru Ajay bhargav) via www.pexels.com

Apa yang dilakukan Ta Toi tentu sebuah tamparan bagi kita yang situasinya lebih baik. Akui saja, kita masih sering beralasan “Ah, hidup sendiri saja masih berantakan kok. Nanti aja sedekahnya”. Atau mungkin alasan lain seperti “Nanti saja sedekahnya kalau sudah kaya. Biar bisa lebih banyak bermanfaatnya bagi orang lain”. Padahal yang sedikit bagimu itu bisa berarti sangat banyak bagi orang lain.

4. Bersedekah tidak harus menunggu kaya. Karena standar kekayaan gitu bisa meningkat setiap harinya

standar kayamu seperti apa? (Image by engin akyurt) via pixabay.com

Dulu, kamu berpikir gaji Rp3.000.000 per bulan itu sudah sangat melimpah. Lantas ketika gajimu Rp3.000.000, kamu pun berpikir bahwa gaji Rp5.000.000 adalah definisi sukses dan kaya. Lama-lama, bisa-bisa kaya menurutmu adalah total kekayaan yang sama dengan Bill Gates. Sulit, bukan? Standar kekayaan itu selalu berubah. Tanpa rasa syukur, kamu bahkan tidak akan merasa kaya dan selalu insecure. Kalau menunggu kaya baru bersedekah, mungkin jawabannya adalah tidak pernah.

5. Kebutuhan hidup juga selalu meningkat, akan sulit untuk bersedekah bila menunggu sisa uang setelah semua tercukupi

kebutuhan juga meningkat (Image by Jeremy Smith) via pixabay.com

Selain standar kekayaan yang meningkat, biaya hidup juga akan selalu meningkat. Contoh paling nyatanya sih membandingkan kebutuhan lajang dengan kebutuhan yang sudah menikah. Tentunya beda jauh kebutuhan setiap bulannya. Di luar itu, seringkali kebutuhan hidup meningkat seiring dengan peningkatan gaji. Kamu yang dulunya sudah cukup dengan makan warteg seharga maksimal Rp10.000 per makan, sekarang kamu merasa harus makan di restoran mewah yang harganya lebih mahal. Semakin banyak uang yang kamu punya, semakin banyak yang kamu inginkan. Jadi, kapan bersedekahnya?

Modal utama bersedekah adalah niat. Bila sudah ada niat, tidak ada lagi pemisahan kaya dan miskin. Karena bersedekah tidak harus jutaan rupiah. Bahkan bersedekah tidak harus dengan uang. Bila bersedekah harus kaya dulu, tentunya Ta Toi tak akan bisa melakukannya. Jadi, kapan akan mulai bersedekah?