Viral Balita Tidur Hampir Setahun karena Idap Sleeping Beauty Syndrome. Apa Penyebabnya?

Bayi yang susah tidur akan membuat ibu pusing tujuh keliling karena dampak bagi si kecil yang jadi sering rewel maupun ke ibu yang juga jadi kurang istirahat. Akan tetapi, bayi yang kebanyakan tidur ternyata juga tak kalah bikin cemas. Salah satunya Sakha, seorang balita asal Madura yang belakangan ini viral karena unggahan ibunya di Tiktok. Dilansir dari Okezone, bayi ini sudah tertidur sejak usianya masih 8 bulan dan belum terbangun hingga kini ia berusia 18 bulan.

Meskipun demikian, dalam videonya ia terlihat masih bisa melakukan aktivitas seperti memakan makanan yang disuapkan. Ternyata dokter mendiagnosis penyakitnya sebagai Sleeping Beauty Syndrome atau istilah medisnya Klein Levin Syndrom (KLS). Sindrom seperti apakah ini? Simak penjelasan selengkapnya yuk!

Penyakit ini termasuk salah satu penyakit langka yang selain menyebabkan kebanyakan tidur juga bisa menimbulkan dampak lain

Tidur terus/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Dilansir dari KLS Foundation, penyakit langka ini merupakan kelainan neurologis komplek yang ditandai dengan jam tidur yang sangat lama. perubahan sikap, dan kemampuan untuk memahami yang kian menurun. Satu kali tidur, penderita gangguan ini bisa tidur sampai 20 jam di siang maupun malam hari.

Hal ini bisa terjadi sampai beberapa hari bahkan dalam kasus Shaka malah sampai bulanan. Jika satu periode ini sudah lewat dan penderita terbangun maka ia akan bisa beraktivitas layaknya orang normal namun ia akan tertidur panjang kembali saat masuk periode tidur selanjutnya.

Penyebab hal ini terjadi belum diketahui secara pasti namun ada faktor yang dianggap bisa meningkatkan risikonya

Banyak faktor/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Dikutip dari laman Healthline, penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti namun beberapa dokter percaya bahwa ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya hal ini. Sebagai contoh, KLS bisa jadi timbul karena terjadinya kerusakan pada hipotalamus, bagian otak yang mengatur nafsu makan, suhu tubuh, hingga mengendalikan tidur.

Selain itu, ada juga beberapa penderita yang mengalami gangguan ini setelah mengalami flu yang menimbulkan pendapat bahwa KLS merupakan salah satu jenis autoimun. Beberapa kasus yang lain menunjukkan bahwa gangguan ini merupakan penyakit turunan karena ada beberapa di antaranya yang terjadi lebih dari satu orang dalam satu keluarga.

Gejala yang terjadi pada penderita KLS yang dapat dilihat ternyata tak hanya dari kebiasaan tidurnya saja lo

Tetap nggak bangun/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Salah satu gejala yang paling terlihat dari gangguan ini adalah rasa mengantuk yang tak tertahankan dan keinginan untuk tidur yang tak terkendali serta biasanya sulit bangun di pagi hari. Jam tidurnya bisa mencapai 20 jam sehari dan terbangun sesekali hanya untuk ke kamar mandi dan makan lalu lanjut tidur kembali.

Akan tetapi ada gejala lain yang bisa terlihat dari penderita Sindrom Putri Tidur ini yaitu halusinasi, disorientasi, mudah tersinggung, terlihat kekanak-kanakkan atau manja, nafsu makan yang tinggi dan merasa linglung ketika terbangun. Gejala ini disebabkan kurangnya pasokan darah ke otak selama tertidur. Munculnya sindrom ini juga sulit untuk diprediksi, bisa tiba-tiba terjadi tanpa peringatan, bahkan yang sudah pulih kembali tetap bisa berulang lagi suatu hari.

Gangguan ini sulit untuk didiagnosis serta memerlukan waktu yang cukup lama, pengobatannya pun tak bisa langsung untuk menyembuhkan gangguannya

Perlu waktu lama/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Masih dilansir dari Healthline, KLS sulit untuk didiagnosis karena muncul bersama dengan gejala psikiatris sehingga penderita sering jadi korban salah diagnosis. Waktu yang dibutuhkan juga cukup lama karena penuh observasi bahkan rata-rata waktu yang diperlukan adalah 4 tahun. Biasanya akan ada beberapa tes yang dilakukan seperti tes diabetes, hipotiroidisme, tumor, inflamasi, infeksi, hingga kondisi neurologis. Dokter juga biasanya akan menyarankan untuk melakukan evaluasi kesehatan mental karena memiliki karakteristik depresi.

Dilansir dari Alodokter, belum ada pengobatan untuk menyembuhkan sindrom ini. Obat yang diberikan dokter biasanya hanya untuk menurunkan gejalanya. Pengawasan yang dilakukan di rumah sangat diperlukan apalagi orang dengan gangguan ini akan kesulitan melakukan aktivitas sendirian sehingga orang tua harus bekerja ekstra untuk mengurus mereka.