5 Tradisi Ujian Masuk Universitas di Berbagai Negara. Ada yang Dianggap Kesempatan Hidup dan Mati

Omjebs > Bacaan > 5 Tradisi Ujian Masuk Universitas di Berbagai Negara. Ada yang Dianggap Kesempatan Hidup dan Mati

5 Tradisi Ujian Masuk Universitas di Berbagai Negara. Ada yang Dianggap Kesempatan Hidup dan Mati

Setelah lulus SMA, banyak orang yang berniat melanjutkan pendidikan di universitas. Alasannya beragam, mulai dari ingin mendapat ilmu dan pengalaman baru sampai berharap bisa dapat pekerjaan yang baik di masa depan. Nggak heran kalau orang-orang rela bersaing ketat demi diterima di kampus impian.

Tentunya, para calon mahasiswa harus melalui ujian masuk universitas dulu. Seperti apakah prosesnya di berbagai negara? Yuk simak!

1. Di Indonesia, ada berbagai cara buat diterima di universitas. Selain ikut ujian masuk, bisa juga diseleksi dari nilai rapor

Ujian di Indonesia selama pandemi corona via tekno.tempo.co

Berbeda dengan Finlandia, Indonesia masih sangat mementingkan nilai rapor di sekolah. Bahkan nilai itu bisa jadi acuan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Calon mahasiswa juga bisa ikut seleksi serentak lewat Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Seandainya nggak diterima, mereka masih bisa mendaftar lewat Ujian Mandiri yang diadakan setiap universitas. Ada banyak kesempatan!

2. Di Korea Selatan, ujian masuk universitas disebut suneung. Para siswa menganggapnya sebagai kesempatan hidup dan mati sampai rela belajar sangat keras

Menyiapkan ujian di Korea Selatan via www.gettyimages.com

Tekanan sosial di Korea Selatan terkenal tinggi, termasuk dalam pendidikan. Para siswa SMA berebut diterima di kampus unggulan seperti Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University. Lulusan ketiga kampus itu dianggap bisa mendapat pekerjaan yang bagus di berbagai perusahaan besar.

Nggak heran kalau para siswa rela belajar sangat keras demi mengikuti suneung. Mereka belajar di sekolah dan tempat bimbel dari pagi sampai tengah malam. Semua demi ujian masuk yang berlangsung selama 8 jam berturut-turut dalam sehari. Pada hari itu, suasana kota jadi tenang dan sunyi. Toko dan bank ditutup, konstruksi ditunda, bahkan penerbangan dihentikan sementara.

3. Cina mempunyai ujian masuk universitas yang disebut gaokao. Meskipun tingkat pengamanannya sudah tinggi, masih ada aja kasus penipuan dalam tes ini

Ujian masuk di Cina via www.abc.net.au

Setahun sekali, lebih dari 10 juta siswa mengikuti gaokao supaya bisa diterima di kampus impian. Mereka duduk berjajar-jajar di ruangan yang sama. Sebelumnya, para peserta sudah belajar 16 jam sehari agar lolos. Demi memastikan agar anaknya sukses, sebagian orang tua di Cina memutuskan keluar dari pekerjaannya demi membimbing sang anak.

Pada hari pelaksaanaan gaokao, pihak penyelenggara berusaha mencegah terjadinya kecurangan. Mereka menggunakan pendeteksi metal, alat pengenal wajah, drone, bahkan ada tentara militer yang mengawasi di lokasi ujian. Tetapi kecurangan bisa tetap terjadi. Dilansir dari Tempo, surat kelulusan gaokao bisa dibeli dengan harga sekitar Rp4 juta. Ratusan peserta juga sengaja digagalkan untuk memberi tempat pada peserta curang yang masuk dengan identitas palsu.

4. Di Amerika Serikat, calon mahasiswa harus bisa lolos tes SAT yang sudah jadi tradisi sejak 1926. Tes ini juga berlaku di beberapa negara lainnya

Bingung saat ujian via www.pittsburghparent.com

Scholastic Aptitude Test (SAT) mulai diterapkan pada 1926 sebagai tes IQ saat seleksi militer. Pada 1950-an, tes ini berubah jadi standar penerimaan mahasiswa di universitas Amerika Serikat. Ada juga sejumlah negara lain yang menerapkannya seperti Inggris, Singapura, Finlandia, dan Australia. Apa aja sih yang diujikan? Mulai dari kemampuan bahasa, matematika, sampai menulis esai dengan topik tertentu. Seandainya belum lolos, mereka bisa mendaftar ulang karena SAT dilaksanakan enam kali dalam setahun.

5. Para pelajar di Jepang yang nggak lolos ujian masuk universitas bakal disebut ronin. Mereka rela mengulang ujian berkali-kali supaya diterima

Perayaan saat diterima di universitas via fr.wikipedia.org

Sebutan ronin berasal dari samurai yang mengembara tanpa ikatan dan harapan. Seperti itulah anggapan bagi para pelajar di Jepang yang nggak diterima di universitas. Tanpa kepastian akan masa depan, mereka rela belajar selama setahun lagi untuk mengulang ujian. Usaha mereka nggak sia-sia. Pasalnya, sejumlah kampus impian seperti Tokyo University mempunyai banyak mahasiswa yang baru diterima setelah dua atau tiga kali ikut ujian masuk.

Itulah berbagai tradisi ujian masuk universitas di berbagai negara. Ternyata banyak yang lebih berat daripada di Indonesia! Dengan mengikuti ujian itu, semoga para pelajar di seluruh dunia bisa diterima di kampus impian masing-masing.