Normalisasi dan Naturalisasi Sungai Sebagai Solusi Banjir Jabodetabek. Yuk, Kenali 4 Bedanya

Omjebs > Bacaan > Normalisasi dan Naturalisasi Sungai Sebagai Solusi Banjir Jabodetabek. Yuk, Kenali 4 Bedanya

Normalisasi dan Naturalisasi Sungai Sebagai Solusi Banjir Jabodetabek. Yuk, Kenali 4 Bedanya

Bencana banjir besar baru melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya. Banjir yang telah merenggut 30 nyawa dan membuat lebih dari 30.000 orang mengungsi itu salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan sungai-sungai menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Sungai sudah makin menyempit karena tumpukan sampah dan lain-lain, membuat air hujan yang harusnya mengalir lancar jadi meluap, tumpah dan menggenangi pemukiman warga.

Untuk mengatasi hal ini sebenarnya pemerintah DKI telah melakukan upaya normalisasi sungai yang pengerjaannya masih berlangsung dan belum selesai. Tapi tahun lalu, Anies sempat menyeletuk kalau pihaknya bakal meniru cara Singapura pakai metode naturalisasi sebagai solusi mencegah air sungai meluap saat hujan datang. Singapura memang jadi negara yang cukup berhasil pakai metode itu sih. Tapi kalau diterapkan di Jakarta apakah akan efektif juga? Terus bedanya sama normalisasi apa? Kenapa nggak dilanjutkan dulu aja? Simak deh ulasan lengkapnya kali ini~

1. Mari kita telisik dari pengertiannya dulu. Sebenarnya sekilas, normalisasi dan naturalisasi ini hampir mirip, mengingat keduanya punya fungsi dan tujuannya yang sama yaitu membuat aliran sungai menjadi lebih baik

Sama-sama bertujuan mengembalikan fungsi sungai via www.cnnindonesia.com

Normalisasi sungai adalah metode penyediaan alur sungai dengan kapasitas mencukupi untuk menyalurkan air, terutama air yang berlebih saat curah hujan tinggi (dikutip dari Detik).

Naturalisasi sungai memiliki pengertian yang sama dengan normalisasi, cuma bedanya kalau naturalisasi juga meliputi upaya mempertahankan ekosistem alami di daerah aliran sungai, seperti tanaman, pepohonan, atau hewan-hewan (intinya lebih “ramah lingkungan” lah).

2. Baik normalisasi atau naturalisasi dilakukan karena kapasitas sungai telah mengecil akibat pendangkalan dan penyempitan badan sungai atau pembangunan di sekitar sungai

Dilakukan karena badan sungai telah menyempit via metro.tempo.co

Sungai-sungai di Jakarta banyak sekali yang sudah berubah jika dibandingkan saat pertama kali terbentuk. Kapasitasnya jadi mengecil akibat pendangkalan –salah satunya karena masih banyak warga yang suka buang sampah di sungai, membuat dasar sungai jadi dipenuhi tumpukan sampah, misalnya yang tadinya bisa menampung 1.000 liter air jadi cuma 100 liter, wajar kalau pas hujan sungai jadi meluap. Ditambah penyempitan badan sungai, dinding sungai rawan longsor, aliran air belum terbangun dengan baik, hingga pembangunan pemukiman atau gedung-gedung di sekitarnya.

3. Masih belum menangkap bedanya? Coba yuk, kita bahas dari sisi penerapan atau eksekusinya. Biasanya baru pada paham di bagian “praktik”nya

Normalisasi, biasanya aliran sungai dibuat lurus dengan beton-beton di sisi kanan kirinya via megapolitan.kompas.com

Dinas Tata Air DKI melakukan normalisasi dengan cara: mengeruk dasar atau dinding sungai untuk memperdalam dan memperlebar sungai, memasang sheetpile atau batu kali (dinding turap) agar dinding sungai mengeras dan tidak mudah menyempit, membangun sodetan, betonisasi, hingga membangun tanggul.

Naturalisasi, lebih eco-friendly via news.okezone.com

Sedangkan naturalisasi seperti dari namanya, dalam penerapannya metode ini mengembalikan fungsi alamiah sungai seperti asalnya, dengan menanami pohon, memperlebar sungai dengan mengikuti bentuk alur sungai, hingga menjaga ekosistem di sekitar sungai tetap hidup. Kalau kata pengamat tata kota Universitas Trisakti, Nirwono Joga, dengan menjaga kelokan sungai ini, kecepatan air makin pelan, jalur hijau dan air diserap, jadi secara alami air akan masuk ke tanah, tidak meluap.

4. Kalau di Singapura, naturalisasi nggak cuma sebatas menanami pinggiran sungai dengan tanaman produktif, tapi lebih dari itu. Keren sih!

Kallang River di Singapura via www.straitstimes.com

Konsep naturalisasi sungai di Singapura dilakukan dengan memenuhi pinggiran sungai dengan tanaman-tanaman yang memang tumbuh secara alami di sekitar sungai. Nggak hanya itu, di bagian hulu juga ada sepetak tanaman yang dirancang untuk menyaring polusi alami. Untuk menangani banjir, bagian bantaran sungai ditingkatkan kemampuannya agar bisa menyerap air, bukan malah dipasang beton-beton seperti pada konsep normalisasi.

Sistem antisipasi banjir juga berhasil dibangun di sana. Batu-batu pemecah arus ditempatkan di aliran-aliran sungai, lengkap dengan sensor dan alarm tinggi air. Jadi saat air mencapai ketinggian tertentu ada alarm yang menyala, pertanda warga di sekitar lokasi harus segera meninggalkan area bantaran sungai.

Pemerintah Singapura juga telah memindahkan pemukiman yang ada di sekitar sungai-sungai. Pembangunan di dekat sungai juga dilarang. Pokoknya gimana pun caranya nggak boleh ada yang mengganggu aktivitas ekosistem alami di sekitar aliran sungai, biar aja alam bekerja sedemikian rupa, toh manfaatnya juga bisa dirasakan masyarakat juga, contohnya banjir jadi bisa dicegah. Sebaliknya, warga dipindahkan ke hunian-hunian vertikal yang letaknya agak jauh dari sekitaran sungai. Keren banget ya!